TERMODINAMIKA-Blog ini dibuat oleh Liyak Melati untuk memenuhi salah satu proyek mata kuliah Termodinamika di Semester 4 dengan dosen pengampu Bapak Apit Fathurohman, S. Pd., M. Si.
Saturday, March 14, 2015
Proses kristalisasi garam
Pengertian Kristalisasi
Kristalisasi merupakan istilah yang menunjukkan beberapa
fenomena yang berbeda berkaitan dengan pembentukan struktur kristal. Empat
tahap pada proses kristalisasi meliputi pembentukan kondisi lewat jenuh atau
lewat dingin, nukleasi atau pembentukan kristal inti kristal, pertumbuhan
kristal, dan rekristalisasi atau pengaturan kembali struktur kristalin sampai
mencapai energi terendah.
Kristalisasi menunjukkan sejumlah fenomena yang berkaitan dengan
pembentukan struktur matriks kristal. Prinsip pembentukan kristal adalah
sebagai berikut:
1. Kondisi lewat jenuh untuk suatu larutan seperti larutan gula
atau garam.
2. Kondisi lewat dingin untuk suatu cairan atau lelehan (melt)
seperti air dan lemak.
Untuk membentuk kristal, fase cairan (liquid) harus melewati
kondisi lewat dingin (untuk lelehan). Kondisi tersebut dapat tercapai melalui
pendinginan dibawah titik leleh suatu komponen (misalnya air) atau melalui
penambahan sehingga dicapai kondisi lewat jenuh (misalnya garam dan gula) pada
kondisi tidak seimbang ini, molekul-molekul pada cairan yang mengatur diri dan
membentuk struktur matriks kristal. Kondisi lewat jenuh atau lewat dingin pada
produk pangan diatur melalui proses formulasi atau kondisi lapangan.
Prinsip dasar kristalisasi
Pemisahan dengan
teknik kristalisasi didasari atas pelepasan pelarut dari zat terlarutnya dalam
sebuah campuran homogeen atau larutan, sehingga terbentuk kristal dari zat
terlarutnya. Kristal dapat terbentuk karena suatu larutan dalam keadaan atau
kondisi lewat jenuh (supersaturated) yaitu kondisi dimana pelarut sudah tidak
mampu melarutkan zat terlarutnya, atau jumlah zat terlarut sudah melebihi
kapasitas pelarut. Proses pengurangan pelarut dapat dilakukan dengan empat cara
yaitu, penguapan, pendinginan, penambahan senyawa lain dan reaksi kimia. Nah,
untuk petani garam tradisional menggunakan cara penguapan menggunakan bantuan
sinar matahari langsung.
Ilustrasi kristalisasi di laboratorium
Untuk mengetahui
bagaimana proses sederhana kristalisasi di laboratorium, perhatikan ilustrasi
berikut!
Bagaimana proses terbentuknya garam dari air laut?
Air laut dialirkan
kedalam tambak dan selanjutnya ditutup. Air laut yang ada dalam tambak
dibiarkan terkena sinar matahari secara langsung sehingga mengalami
proses penguapan. Setelah beberapa hari (tergantung panas cahaya matahari)
jumlah air berkurang, dan mengering bersamaan dengan itu pula kristal garam
terbentuk. Kristal-kristal garam yang telah terbentuk kemudian dikumpulkan untuk
diproses lebih lanjut sehingga menghasilkan kristal garam yang bersih dan
terbebas dari kotoran.
Sumber :
http://garinknowledge.blogspot.com/2013/10/proses-kristalisasi-garam.html
Proses Pengolahan Tebu menjadi Gula Kristal
Putih
1.Panen Tebu
Umur panen tebu mulai dari saat penanaman sampai dengan siap
penen adalah 12 bulan. Tebu dipenen dengan cara memotong batang tebu dibagian
bawah dan atas. Tebu yang berkualitas baik untuk pembuatan gula harus dijaga
saat pemanenan. Penebang secara manual, hasilnya lebih baik dibandingkan dengan
mesin pamanen tebu. Penebangan meliputi seluruh bagian tebu. Bagian pucuk dan
daun tebu di buang dan hanya batang tebu yang digunakan karena yang menggandung
sukrosa adalah batang tebu. Setelah itu dikumpulkan dan segera dikirim ke
pabrik sebelum rusak sukrosa yang terkandung karena proses kimia,
mikroba,dll. Untuk gambar tebu yang siap dipanen dapat dilihat pada
Gambar 1.
2.Setelah Panen Tebu
Setelah dipenen tebu hanya boleh dibiarkan maksimal 2x24jam,
apabila dibiarkan lebih lama tebu akan menjadi asam sehingga kadar sukrosa
dalam batang tebu akan semakin sedikit. Tebu yang telah siap panen langsung
dangkut dengan truk dan dibawa kestasiun penerimaan bahan baku. Distasiun ini
tebu ditimbang dan disortasi secara manual. Tebu yang tidak normal akan
dipisahkan, secara fisik yang termasuk sebagai tebu tidak normal
adalah tebu muda, tebu kering (layu), tebu terbakar, tebu yang kotor.
3.Pengolahan Tebu
Proses pengolahan tebu menjadi gula kristal putih di pabrik gula
Sei Semayang dilakukan dengan terdiri atas beberpa tahapan stasiun pengerjaan,
yaitu stasiun penggilingan, stasiun pemurnian, stasiun penguapan (evaporator),
stasiun pemasakan, stasiun putaran dan pengeringan.
-Penggilingan tebu
Tebu yang telah selesai disortasi dan telah melewati beberapa
pengerjaan pendahuluan selanjutnya batang tebu dimasukkan kestasiun
penggilingan untuk proses pemerasan nira tebu. Dipabrik gula Sei Semayang
terdapat 5 unit gilingan yang disusun secara seri, pada satu unit gilingan
terdiri dari 3 buah rol gilingan. Untuk mendapatkan perahan yang maksimal unit
gilingan diseting dengan memperhatikan:
1.
Pengaturan celah jarak
antara rol atas dan bawah, muka rol belakang sesuai dengan kapasitas
2.
Pengaturan kecepatan
putaran rol, disesuaikan dengan kapasitas
3.
Pengaturan daya yang
disuplay oleh turbin uap, semakin banyak beban yang digiling maka semakin besar
pula daya yang harus disuplay
4. Konstruksi gilingan dibuat dengan bentuk
permukaan seperti V dengan maksud agar rol mempunyai daya cengkram yang kuat,
serta agar diperoleh hasil perasan yang maksimal.
Sedangkan
untuk perawatan dalam masa penggilingan yang harus dilakukan antara lain adalah
pelumasan metal gilingan, control air pendingin, mengamati suara dan getaran
gilingan serta pada saat tertentu mengadakan pengecekan pada ukuran bukaan
gilingan dan daya yang disuplay mesin uap.
Stasiun
penggilingan adalah tempat untuk mendapatkan nira dari tebu, bertujuan utamanya
adalah untuk mendapatkan nira dari tebu semaksimal mungkin dengan cara menekan
kehilangan hasil seminimal mungkin. Untuk itu diguanakan air ambibisi dalam
proses penggilingan. Air ini ditambahkan dengan tujuan untuk mengencerkan
kandungan gula dari batang tebu. Air ambibisi diperoleh dari hasil gilingan 3,4
dan 5 yang dipanaskan dengan uap samapi suhu 600C. Pada stasiun
penggilingan ini tebu akan melewati 5 unit penggilingan, hasil gilingan 1 dan 2
berupak nira mentah, sedangkan hasil gilingan 3,4 dan 5 digunakan untuk air
ambibisi pada penggilingan berikutnya. Selanjutnya ampas tebu akan
digunakan untuk bahan bakar ketel uap.
-Pemurnian
Tujuan utama dari pemurnian adalah memisahkan
kotoran dari nira tebu. Nira yang dihasilkan dari stasiun penggilingan tidak
dapat langsung diolah menjadi gula kristal putih karna banyak mengandung
kotoran.
Pada tahap pemurnian
ini digunakan bahan pembantu pemurnian berupa gas belerang (SO2) dan
dan air kapur (Ca(OH)2). Air kapur berfungsi utuk menjernihkan nira,
sehingga diperoleh nira yang bersih. Sedangkan gas belerang berfungsi untuk
mengendapkan kotoran-kotorang yang ada dalam nira. Sehingga setelah pemurnian
akan diperoleh hasil berupa nira jernih dan endapan kotoran (blotong). Nira
jernih akan masuk ketabung penampung nira dan siap diolah menjadi gula kristal
putih, sedangkan blotong akan diolah kembali melalui saringan dan hasil
saringan akan langsung masuk ke tabung penampung nira, selanjutnya blotong yang
sudah tidak bisa diolah akan dijadikan pupuk organik tanaman tebu.
-Penguapan
Stasiun penguapan (evaporasi) berfungsi untuk
mengentalkan nira yang telah jernih dengan menguapkan sebagian air yang
terkandung didalam nira encer sampai kandungan air 35%. Untuk proses penguapan
ini sumber panas yang diguanakan bersumber dari uap bekas dari turbin uap.
Untuk memperoleh hasil penguapan yang baik diperlukan pengaturan
dan pengamatan suhu yang baik pada stasiun penguapan ini. Pada satsiun ini
terdapat empat evaporator, kepekatan nira akan bertambah pada evaporator
keempat dan diiringi dengan kenaikan titik didih. Oleh karena itu tekanan dan
titik didih perlu dikurangi untuk menghindari kerusakan sukrosa (gula). Maka
selama proses penguapan temperature tiap evaporator akan berbeda, temperature
akan semakin menurun dari evaporator 1 sampai 4. Temperature atau suhu
evaporator dari evaporator 1 sampai 4 berturut-turut adalah 1100, 900,
700, 600 C.
-Masakan
Setelah dikentalkan nira akan masuk stasiun
pemasakan. Fungsi dari stasiun pemasakan adalah untuk mengkristalkan gula. Nira
kental yang masuk ke stasiun pemasakan dengan kandungan air 35%, kelebihan
kandungan air ini akan diuapkan lagi pada proses pengkristalan pada pan
kristalisasi.
Proses
kristalisasi ini berlangsung dalam kondisi vakum (65 cm Hg) sehingga:
1.
Titik didih nira dapat
ditekan seminimal mugkin pada suhu 60-650C
2.
Pemakaian uap sebagai
pemanas dapat seminimal mungkin
3.
Waktu masak lebih
singkat
Pada dasarnya proses kristalisasi merupakan
kelanjutan dari proses penguapan, agar gula kental mencapai titik jenuh dan
membentuk kristal. Tujuan utama pembentukan kristal ini adalah untuk membuat
produk gula kristal yang mmudah dikeringkan sehingga memudahkan dalam hal
penyimpanan.
Pada proses pengkristalisasi ini kemurnian dari produk gula
kristal putih tergantung dari kemurnian induknya. Selama proses
pertumbuhan kristal molekul sukrosa mengadakan penggabungan sedemikian juga
molekul bukan gula yang disebut kristal palsu.
-Putaran dan Pengeringan
Tujuan utama stasiun putaran dan
pengeringan adalah memisahkan kristal gula dari larutan induk. Stasiun ini
berkerja berdasarkan gaya sentrifugal yang dihasilkan saat putaran, maka dari
alat ini cairan kental akan terlempar, sedangkan kristal akan tertinggal pada
saringan. Pada proses ini masih diikuti dengan penyiraman air (water washing)
dan penyemprotan uap (steam washing) dan larutannya akan menerobos keluar
melalui rongga saringan.
Setelah dari stasiun putaran kristal gula yang
masih lembab diangkut dengan menggunakan belt conveyor melewati alat pengering
berupa drayer, sehingga gula kristal berbentuk butiran kering sperti pasir dan
siap masuk ke proses pengemasan.
PROSES
TERJADINYA EMBUN PADA GELAS YANG DIISI AIR DINGIN
Kondensasi atau nama
lainnya yang kita kenal dengan pengembunan adalah proses perubahan wujud zat
dari zat gas menajdi zat cair. Pengembunan atau kondensasi merupakan proses
perubahan zat yang melepaskan kalor/ panas. Proses terjadinya pengembunan atau
kondensasi ini adalah saat uap air di udara melalui permukaan yang lebih dingin
dari titik embun uap air, maka uap air ini akan terkondensasi menjadi titik –
titik air atau embun. Embun terbentuk ketika udara yang berada di dekat
permukaan tanah menjadi dingin mendekati titik dimana udara tidak dapat lagi
menahan semua uap air.
Kelebihan uap air itu
kemudian berubah menjadi embun di atas benda-benda di dekat tanah. Sepanjang
hari benda-benda menyerap panas dari matahari. Sedangkan di malam hari
benda-benda kehilangan panas tersebut melalui suatu proses yang disebut radiasi
termal.
Dalam kehidupan
sehari-hari kita sering melihat fenomena yang terjadi seperti pada gambar
diatas. Banyak konsep yang diartikan oleh setiap orang, salah
satunya anggapan bahwa titik-titik air tersebut keluar melalui pori-pori
gelas dan ada juga yang mengatakan es menguap dan membasahi dinding
gelas. Bintik-bintik air tersebut berasal dari peristiwa pengembunan udara
yang berada di sekitar dinding gelas.Embun terbentuk ketika udara yang berada
di dekat permukaan tanah menjadi dingin mendekati titik dimana udara tidak
dapat lagi menahan semua uap air.
Kelebihan uap air itu
kemudian berubah menjadi embun di atas benda-benda di dekat tanah. Sepanjang
hari benda-benda menyerap panas dari matahari. Sedangkan di malam hari
benda-benda kehilangan panas tersebut melalui suatu proses yang disebut radiasi
termal.
Udara yang ada di
sekeliling gelas mengandung uap air. Ketika gelas diisi es, gelas menjadi
dingin. Udara mengalami pengembunan karena udara di sekeliling gelas
melepaskan kalor kepada es dalam gelas sebab suhu udara lebih besar daripada
suhu es dalam gelas. Uap air yang ada di udara pun ikut mendingin dan memerlukan
suatu padatan untuk dapat terkondensasi. Karena udara melepaskan kalor
sehingga udara berubah wujud menjadi air, yang kita lihat berupa titik-titik
air di luar gelas.
Fenomena tersebut
dapat dibuktikan dengan cara mencampur zat pewarna dalam campuran air dengan es
tersebut. Titik-titik air tersebut tetap berwarna bening dan tidak berwarna
seperti pewarna. Hal tersebut menunjukkan bahwa titik-titik air tersebut tidak
berasal dari dalam gelas. Udara yang ada di sekeliling gelas mengandung
uap air. Ketika gelas diisi es, gelas menjadi dingin. Udara yang bersentuhan
dengan gelas dingin ini akan turun suhunya. Uap air yang ada di udara pun ikut
mendingin. Jika suhunya sudah cukup dingin, uap air ini akan mengembun
membentuk tetes-tetes air di bagian luar gelas.
Subscribe to:
Posts (Atom)




